Senin, 21 November 2016

Asal Pulau Lepeh Dan Pulau Hanaut 

PADA zaman dulu, Raja Lumuh Peang dari kerajaan Sampit duduk bersama anak-anaknya, yaitu seorang putra dan putri. Anak yang tertua bernama Puteri Lumuh Lenggana dan adiknya bernama Lumuh Sumpit. Cuaca saat itu sedang buruk. Hujan turun dengan lebat dan langit gelap gulita.
Ketika Raja Lumuh sedang berbicara dengan anak-anaknya, tiba-tiba di balai penghadapan sang raja tempat mereka berkumpul itu, muncul cahaya kebiru-biruan memancar menerangi kegelapan istana. Setelah lampu istana dinyalakan, barulah pembicaraan Raja Lumuh Peang dan anak-anaknya dilanjutkan. “Anak-anakku, malam ini sengaja aku kumpulkan kalian berdua.” “Untuk apa ayahanda?” tanya Puteri Lumuh Lenggana.
cahaya ini,” jawab Sang Raja. “Benda ini adalah pusaka peninggalan nenek moyang kita Raja Lumuh Pasir. Satu-satunya barang paling berharga dan sangat mahal harganya di dunia ini,” lanjut Raja Lumuh Peang kepada kedua anaknya.
“Benda apa itu ayahanda,” tanya Lumuh Sumpit. “Sebuah intan yang sangat besar dan mahal harganya,” jawab Raja.
Raja Lumuh Peang langsung membuka bungkusan yang dikeluarkan dari jubahnya dan memperlihatkan bentuk benda itu. “Inilah benda itu. Bentuknya seperti bentuk jantung pisang dan besarnya juga sebesar jantung pisang,” kata ayah mereka.
“Inilah intan yang terbesar dan termahal di muka bimu ini,” kata Raja Lumuh Peang lagi. “Ayahanda, darimana dan bagaimana ceritanya sehingga nenek moyang kita mendapatkan intan tersebut?” sela Puteri Lumuh Lenggana.
“Baiklah, akan kuceritakan kepada kalian berdua. Riwayat ditemukan intan ini memang sangat panjang. Ratusan tahun yang lalu, Raja Lumuh Pasir nenek molyang kita sering pergi berniaga sampai ke luar wilayah Sampit. Raja Lumuh Pasir adalah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Hidupnya sangat senang dan bahagia, serta berlimpah harta. Intan yang dimiliki oleh Raja Lumuh Pasir itu bukan diperolehnya dari hasil berdagang.

 

LEGENDA PURUK AMAI RAWANG
Legenda Puruk Amai RawangLegenda ini bermula di sebuah desa yang pada jaman dahulu bernama Upun Batu (sekarang bernama desa Tumbang Manange, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah).

Alkisah, pada saat itu warga desa Upun Batu sedang memasuki musim panen, hampir seluruh warga desa pergi memanen padi di ladang, sehingga yang tersisa hanya beberapa orang saja terutama kaum wanita yang beraktifitas di desa. Di antara mereka yang tetap berada di desa terdapat seorang wanita yang bergelar "Nyai Inai Rawang", isteri dari "Toendan" yang bergelar "Tamanggung Amai Rawang".

Tanpa diduga ketika semua orang masih berada di ladang, tiba-tiba datanglah gerombolan orang "Ot" dari hulu sungai yang terkenal dengan sebutan "Asang" (perampok dan pemburu kepala) menyerang desa Upun Batu, saat itu para wanita yang tersisa menunggu desa tengah asik mencuci pakaian di pinggir sungai Kahayan. Tanpa ada perlawanan gerombolan Asang membunuh siapapun yang mereka jumpai di desa. Dalam waktu singkat korban pun berjatuhan, beberapa orang langsung terbunuh, sebagian terluka, beberapa orang yang beruntung berusaha melarikan diri.

Sementara di ladang, Tamanggung Amai Rawang tiba-tiba merasa gelisah, kepekaan batinnya yang sudah terasah menangkap firasat buruk menandakan sesuatu yang tidak diinginkan sedang terjadi. Lalu dengan ditemani adiknya yang bernama "Tewek", Tamanggung Amai Rawang memutuskan untuk pulang ke desa Upun Batu.

Sesampai di desa terkejutlah mereka melihat pemandangan yang memilukan, mayat-mayat bergelimpangan dan beberapa orang terluka parah. Setelah mengetahui kejadian dan siapa pelakunya, Tamanggung Amai Rawang memerintahkan seseorang yang bernama "Singa Puai" pergi ke ladang untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada orang yang dituakan yang bernama "Ucek" serta mengajaknya untuk "mambaleh bunu" (membalas dendam).

Kemudian berangkatlah Singa Puai menuju ladang, setibanya di ladang Singa Puai terkejut bukan kepalang, ternyata gerombolan Asang telah lebih dahulu tiba kemudian menyerang dan membunuh orang-orang yang sedang asik memanen padi.

Selain menyerang dan membunuh, Asang juga meninggalkan pesan bahwa mereka akan kembali menyerang desa Upun Batu tujuh hari lagi, jika ingin selamat maka warga desa Upun Batu harus menyerahkan seluruh harta benda dan bersedia menjadi jipen (budak) mereka. Sebelum pergi mereka meninggalkan "Totok Bakaka" (sandi) berupa "Sampalak" sebagai tanda bahwa mereka akan menyerang lokasi tersebut.

Malam itu, Tamanggung Amai Rawang bersama Tewek, Singa Puai dan beberapa warga yang selamat dari amukan Asang berkumpul dan berunding saling bertukar pikiran tentang kejadian yang menimpa desa mereka, serta membahas apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Sedih, marah dan putus asa, demikianlah yang mereka rasakan. Niat membalas dendam telah kandas karena hanya tinggal mereka kekuatan yang tersisa. Ketakutan pun melanda, tujuh hari lagi mereka akan kembali diserang oleh Asang.
Akhirnya diputuskan untuk melakukan ritual "Manajah Antang" yaitu sebuah ritual di kalangan suku Dayak Ngaju untuk meminta petunjuk dan bantuan kepada dewata melalui perantaraan burung antang (elang), mereka sepakat melakukan ritual tersebut di sebuah tempat sakral berupa bukit berbatu yang berada persis di seberang desa Upun Batu.

Keesokan hari, dalam ritual Manajah Antang tersebut, mereka mendapat petunjuk dari "Antang Patahu" (kekuatan gaib penjaga desa), yaitu :
  • Tamanggung Amai Rawang diminta segera mendirikan "kuta" atau benteng di atas bukit batu tempat mereka melakukan ritual Manajah Antang.
  • Apabila Asang datang menyerang dari arah matahari terbenam, maka Tamanggung Amai Rawang beserta warga Upun Batu harus segera pergi menyelamatkan diri karena itu pertanda mereka akan kalah.
  • Apabila Asang datang menyerang dari arah matahari terbit maka itu artinya mereka akan menang melawan Asang.
  • Tamanggung Amai Rawang tidak diperkenankan "manyilak mandau" atau mengeluarkan mandau dari kumpang (sarung mandau) untuk menghadapi musuh. Dan selama musuh menyerang ia diperintahkan untuk duduk di atas sebuah "garantung" (gong) menyaksikan apa yang terjadi nanti, karena Antang Patahu sendiri yang akan turun tangan menghadapi Asang.


Setelah  menerima petunjuk dari Antang Patahu, segeralah Tamanggung Amai Rawang bersama warga Upun Batu membuat benteng di puncak bukit tempat mereka melaksanakan ritual Manajah Antang.  Jika dipikir dengan akal, suatu hal yang mustahil membuat benteng dalam waktu kurang dari tujuh hari. Namun atas bantuan Antang Patahu, mereka berhasil membuat benteng tesebut dalam waktu yang sangat terbatas.

Tujuh hari pun berlalu, dan tepat di hari yang ke delapan, sayup-sayup terdengar pekik lahap dan tukiw menggema, makin lama teriakan-teriakan khas perang itu makin jelas terdengar bersamaan dengan kedatangan gerombolan Asang dari arah terbitnya matahari.

Ketika gerombolan Asang telah berada di depan benteng pertahanan Tamanggung Amai Rawang, pekik lahap dan tukiw kembali menggema yang bertujuan untuk menggentarkan semangat warga Upun Batu yang mendengarnya. Segera Tamanggung Amai Rawang mencari tempat yang terbuka di puncak bukit lalu duduk di atas gong sesuai petunjuk Antang Patahu.

Kemudian secara serentak gerombolan Asang ini berusaha menaiki benteng, yang segera disambut dan dijatuhkan oleh Antang Patahu yang kehadirannya tidak disadari oleh para penyerang. Gelombang demi gelombang serangan selalu dipatahkan oleh Antang Patahu, korban dari pihak Asang pun berjatuhan.

Pada akhirnya pemimpin Asang menyadari bahwa yang mereka hadapi adalah suatu kekuatan gaib yang tidak akan mampu mereka lawan. Pemimpin gerombolan Asang kemudian berteriak minta pengampunan kepada Antang Patahu, mereka mengaku kalah dan menyerahkan diri sebagai jipen Tamanggung Amai Rawang.

Setelah peristiwa itu, tidak ada lagi Asang-asang lainnya yang berani menyerang desa Upun Batu. Desa Upun Batu kembali aman dan warganya hidup sejahtera.

Bukit yang berada di seberang desa Upun Batu kemudian lebih dikenal dengan sebutan "Puruk Amai Rawang" (puruk = bukit). Adapun batu besar di tepi sungai Kahayan yang berdampingan dengan Puruk Amai Rawang disebut "Batu Suli" karena bentuknya menyerupai buah suli (buah khas Kalimantan)
 

Senin, 14 November 2016

  CERITA RAKYAT KAPUAS PERTEMPURAN DI PULAU KUPANG

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzQGtbZS7urw1lhaRfmDuBWHeMwen88mCiRzgptpBhRWDrXRtZ_DYYvIO1BFEDWjXA7HlRm8ua-NGoUuWbkJfiCUb_NvA4VniOiCfghixbq6zkT4whkRUiQs7C6ACx7uZX0SrCMSOaFehI/s1600/kapuas.jpg
Alkisah Temanggung Sempung sudah mengambil Nyai Nunjang menjadi istrinya dan di anugerahi seorang putri yang diberi nama Nyai Undang, seorang putri yang sangat cantik parasnya, seperti dewi turun dari kayangan. Maka Temanggung Sempung bermaksud akan mengambil Sangalang anaknya Mereng cucu dari Karangkang menjadi menantunya.

Maka tersiarlah kabar dimana-mana akan kecantikan Nyai Undang itu, dan berita itu pun sampailah kepada Raja Laut namanya Sawang. Maka datanglah Raja Sawang dengan balatentaranya, dengan maksud untuk mengawini Nyai Undang tersebut. Dan dia berjanji dengan semua balatentaranya, jika maksudnya untuk mengawini Nyai Undang itu tidak diterima, maka dia akan mengumumkan perang dengan kota Pulau Kupang itu.

Singkat cerita, dengan di iringi tempik sorak dan teriakan dari para pengiringnya, maka sampailah Raja Sawang di istana Nyai Undang tersebut. Tetapi malang akan tiba, waktu Raja Sawang akan melangkahkan kaki nya diatas Kayu-Nyilu dipintu gerbang istana, maka Raja Sawang terus jatuh, lemah lunglai segala sendi anggota tubuhnya, seperti orang yang tidak bertenaga lagi. Melihat akan hal yang demikian itu maka Nyai Undang lalu mengambil Dohong “Raca Holeng Joha, Kahajun Duun Suna Taja Panulang Karing, Hitan Iung Pundan, Sanaman Mantikei dari hulu Katingan Kuman Raha”. Oleh karena Sawuh (mengamuk) Nyai Undang terus turun mengamuk, semua balatentara Raja Sawang yang ada di Banama dibunuhnya. Balatentara Raja Sawang menderita kekalahan dan menyerah. Dan mereka yang hidup dijadikan tawanan dan dijadikan jipen atau budak beliannya.
Dari rakyat Raja Sawang dan Raja Nyaliwan (Raja Utara) yang masih hidup ada beberapa orang yang masih dapat melarikan diri dan membawa kabar tentang jalannya pertempuran. Setelah mendengar kabar inilah maka seluruh rakyat Raja Sawang berjanji akan menuntut balas untuk kematian Rajanya. Semua balatentara Raja Sawang yang menjadi tawanan tadi akhirnya kimpoi mengawin dengan suku dayak, sehingga mereka menjadi satu turunan yang besar yang akhirnya juga menjadi nenek moyang dari suku bakumpai ialah Tamanggung Pandung Tandjung Kumpai Dohong, dari suku barangas ialah Suan Ngantung Rangas Tingang, dari suku alalak ialah Imat Andjir Serapat.
Kabar bahwa Kerajaan Raja Sawang akan menyerang kota Pulau Kupang sampai pula ke Nyai Undang. Maka Nyai Undang mengirimkan utusannya ke Tumbang Pajangei. Dan bersama dengan utusannya itu dikirmkannya pula sebatang Lonjo Bunu atau tombak Bunu sebagai surat. Pesannya itu dikirimkannya kepada Rambang, Ringkai, Tambun, Bungai di Tumbang Pajangei. Yang mana maksud dari Tombak Bunu itu adalah meminta bala bantuan untuk berperang.
Dengan tidak berpikir panjang dan membuang-buang waktu lagi Rambang, Ringkai membawa Temanggung Bungai Andin Sindai anak Temanggung Sempung yang paling berani dan gagah perkasa, serta Raja Tambun Tandjung Ringkin Duhong anak Serupoi. Keduanya adalah pahlawan yang pangkamenteng pangkamamute. Karena kedua pahlawan ini belum pernah satu kalipun mengalami kekalahan.
Adapun nama-nama para panglima yang turut serta untuk membela Pulau Kupang adalah:
1. Njaring anak Ingoi dari Hulu Miri

2. Bungai anak Ramping dari Tumbang Miri

3. Temanggung Kandeng keponakan Piak Batu Nocoi Riang Naroi

4. Isoh Batu Nyiwuh

5. Etak kampong Tewah

6. Temanggaung Handjungan dari Sare Rangan

7. Temanggung Basi Atang dari Penda Pilang

8. Temanggung Sekaranukan dari Tumbang Manyangen

9. Temanggung Renda dari Baseha

10. Temanggung Rangka dari Tumbang Rio

11. Temanggung Kiting dari Tanjung Riu

12. Temanggung Lapas dari kampung Baras Tumbang Miwan

13. Temanggung Basir Rumbun dari teluk Haan
14. Temanggung Hariwung dari Tumbang Danau

15. Temanggung Dahiang bapa Buadang dari Sepang Simin

16. Temanggung Ringkai dan Tombong dari Tangkahen

17. Temanggung Uhen dari kampung Manen

18. Temanggung Kaliti dari Rawi

19. Rakau Kenan dari Tumbang Rungan

20. Temanggung Kandang Henda Pulang dari Sugihan (Guhong)

21. Temanggung Andin dari Pulau Kantan

Tiada berapa lamanya berkat kerjasama dan saling mengerti satu akan yang lainnya, maka siaplah kota itu lengkap dengan persenjataannya. Dan diberilah nama oleh mereka akan kota itu “Kota Pematang Sawang” yang selalu siap sedia menerima kedatangan musuh. Istana tempat Nyai Undang dikepalai oleh Temanggung Rambang. Semua Panglima Perang dari sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan , Seruyan telah berkumpul didalam kota itu. Semua menjadi satu dengan tekad dan satu dasar ialah kerjasama yang erat. Tidak berapa lamanya, musuh(asang) pun datanglah. Jumlah Asang yang datang itu kurang lebih 10.000 orang banyaknya.

Sebelum peperangan dimulai maka Temanggung Rambang dan Temanggung Ringkai menenung sambil menyanyi. Maka dengan tiba-tiba datanglah burung Elang dan memberi tanda menang. Dengan tidak takut akan maut, mereka melawan dan menyerang musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka. Dengan alat-alat senjata yang ada dan segala pusaka dari nenek moyang suku Dayak pertempuran berlangsung dengan seramnya. Darah mengalir dari tubuh balatentara musuh yang mati, membasahi tanah dan menjadikan air sungai berubah menjadi merah warnanya. Tetapi Panglima-Panglima suku Dayak semuanya tidak ada satu orang pun yang luka atau mati terbunuh oleh senjata musuh, karena mereka memakai pusaka dari Ranying.

Melihat akan ketangkasan serta keunggulan dari balatentara Nyai Undang yang pantang mundur itu, maka akhirnya mereka menyerah dengan marup. Di dalam peperangan yang demikian sengitnya itu, Temanggung Rambang lah yang sangat berjasa karena dia dapat memotong kepala asang tersebut. Semua kepala pasukan musuh mati terbunuh.
Setelah peperangan selesai maka di adakan lah pesta besar untuk memalas Temanggung Rambang dengan darah ayam, babi, sapid an darah orang yang dibunuhnya tadi, supaya tidak tulah karena demikianlah Adat Dayak. Selagi mengadakan pesta itu semua utusan suku Dayak dari seluruh Kalimantan di undang. Dalam pesta itu sudah berkumpul lebih kurang 35 wakil suku Dayak. Yang nama-namanya ada tertulis sebagai berikut:
1. Manan dari hulu Kahayan
2. Londoi dari Tabahoi
3. Djato dari Bahoi
4. Ibong dari Buit Kalimantan Utara
5. Ikuh dari Tinggalan (Tidong)
6. Tingang dari Bukat (Dayak Bukat)
7. Kuit dari hulu Rundit Bt Lupar
8. Parekoi dari Serawai
9. Tunda Luting dari Samba Katingan
10. Dekoi dari Malahoi
11. Unei dari dayak Sahiei
12. Tamban dari Katingan
13. Mahat dari Mahalat
14. Etas dari hulu Kapuas
15. Dalong dari Hampotong
16. Umbing dari Manuhing
17. Tukoh dari Mamaruh
18. Gana dari Mentaya
19. Nuhan dari Saruyan
20. Bakan dari Rungan
21. Sindi dari Miri
22. Bahon dari Bahaun
23. Sawang dari Siang
24. Djohan dari Taran
25. Sota Munan dari Maanyan
26. Pahan dari Kalangan
27. Sakai dari Serawai
28. Manoui dari Rakaoi
29. Punan dari Heban
30. Hinan dari Dusun
31. Djaman dari Kabatan
32. Ritu dari Uru
33. Lati dari Pari
34. Nanau dari Lamandau

Setelah selesai pesta tadi maka sampailah giliran pesta besar lagi untuk mengawinkan Temanggung Sangalang dengan Nyai Undang di Pematang sawang Pulau Kupang. Dan selain itu Mangku Djangkan membikin pesta besar di Pulau Kantan mengawinkan Njaring anak Ingoi dengan Manjang anak Mangku Djangkan, pesta itu tujuh hari tujuh malam lamanya.
Sedikit catatan tentang Pulau Kupang Pematang Sawang. Kota ini turun temurun berganti-ganti orangnya yang menjadi Raja disitu. Dan kotanya juga sering berganti. Hanya dalam tetek tatum tidak diceritakan tentang perubahan kota itu. Jaman sekarang di tempat itu ada terdapat meriam dan bekas peninggalan-peninggalan. Ditempat itu juga sudah diadakan parit yang di namai Terusan Bataguh. Hingga sekarang sering disebut kota Bataguh. Kayu-kayu ulin yang menjadi tiang dan tembok kota itu luasnya tidak kurang dari 5 kilometer persegi.
LEGENDA BATU BANAMA DIBUKIT TANGKILING


Bukit Tangkiling terletak kurang lebih 34 Km dari kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Bukit Tangkiling yang tingginya kurang lebih 500 m , dipercaya menyimpan berjuta legenda dan kekuatan magis. Berdiri kokoh, menjulang langit di perbatasan Kelurahan Banturung-Tangkiling Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Perlu waktu kurang lebih 40 menit untuk mencapai puncaknya.

Tempat ini biasanya ramai dihari-hari libur karena banyak orang yang berekreasi ke tempat ini, di Bukit Tangkiling terdapat sebuah batu yang berbentuk seperti perahu, konon ceritanya pada dahulu kala batu ini adalah sebuah perahu yang berubah menjadi batu (basaluh) oleh yang Maha kuasa karena terjadinya sebuah pali (pantangan) ceritanya hampir mirip dengan legenda Sangkuriang dan Watu Gunung.
Konon, dahulu, daerah sekitarnya berupa sungai, seluas mata memandang, yang tampak air semata. Bukit dan daratan sekitarnya terbentuk karena kutukan.
 *******
Pada masa lampau Pulau Kalimantan merupakan bagian dari lautan yang  daratannya hanya sedikit yaitu daerah tengah dan daerah timur pulau borneo sekarang.
Saat itu terdapat kampung di daratan yang terletak di tepi Sungai Sebangau, hiduplah seorang seorang janda yang ditinggal mati suaminya dengan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun. Janda ini dikenal dengan nama Bawi Kuwu (berarti wanita cantik dan awet muda).
Pada suatu hari, ketika si anak sedang bermain bersama teman – temannya, dia merasa lapar dan pulang ke rumah untuk makan.
Sesampainya di rumah, didapatinya ibunya sedang memasak nasi goreng yang digoreng tanpa minyak (bari sanga). Mencium aroma masakan yang sedap itu, si anak tidak sabar ingin segera makan. Dia menangis dan merengek-rengek pada ibunya... Bawi Kuwu mencoba untuk tidak menghiraukan rengekan anaknya, tapi lama kelamaan habis juga kesabarannya. Dengan marah dia mengayunkan solet (suruk : alat buat menggoreng) yang secara tidak sengaja menghantam kepala anaknya, sehingga mengalir darah segar. Si anak merasa kaget dan kesakitan, dia berlari keluar dari rumah, dia merasa ibunya sudah tidak menyayangi dirinya lagi.
Melihat anaknya yang lari keluar rumah, Bawi Kuwu segera mengejarnya tapi dia kalah cepat. Bawi Kuwu mencari anaknya ke sana kemari, tapi tidak berhasil menemukan anaknya juga. Dia menyesali dirinya karena telah memukul kepala anaknya yang menyebabkannya kehilangan anaknya satu-satunya itu.
****
Sementara itu si anak bersembunyi di atas kapal yang sedang singgah di dermaga. Kapal itu berasal dari Cina, yang membawa muatan dagangan keramik untuk dijual di kampung itu. Si anak tidak tahu bahwa kapal itu sudah selesai bongkar muat di dermaga itu. Sudah terlambatlah baginya untuk kembali ke kampungnya saat kapal itu melepas sauh dan berlayar kembali ke negeri Cina.
Saat Kapten Kapal berkeliling memeriksa kapalnya, dia menemukan si anak yang bersembunyi di balik suatu peti. Kapten itu bertanya, "Hai anak kecil, dari mana kamu berasal, dan mengapa kau ada di kapalku?"
Anak itu menjawab dengan gemetar ketakutan, "Saya melarikan diri dari rumah tuan..."
Kapten itu memandangnya dengan penuh selidik, "Mengapa kepalamu berdarah?"
Anak itu menjawab, "Karena dipukul oleh ibu saya, karena itu saya melarikan diri dari rumah, saya merasa bahwa ibu saya tidak menginginkan saya lagi."
Kapten itu kemudian berkata, "Baiklah, karena kau tidak mungkin kembali ke kampungmu, maka ku ijinkan kau untuk ikut kapalku. Tapi, kau harus bekerja seperti anak buahku yang lain."
Kemudian oleh Kapten kapal, anak itu dibawa menghadap Saudagar pemilik kapal itu. Saudagar menyuruh supaya luka di kepala anak itu dirawat sampai sembuh. Dan oleh Saudagar kapal, anak itu diberi nama Kilin.
Kilin tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan kuat. Selain pandai, dia juga rajin bekerja. Saudagar semakin sayang padanya, karena dia tidak  mempunyai seorang anakpun, Kilin diperlakukan seperti anaknya sendiri. Kilin dididik dengan berbagai ilmu.
Setelah dewasa, Kilin pun dipercaya untuk berlayar ke negara-negara tetangga untuk menjual dagangan mereka. Bersama Kapten kapa yang menemukannya dulu, mereka berlayar dari negeri ke negeri, dari pulau ke pulau dan dari laut ke laut serta mengarungi samudera hingga sampailah mereka ke tempat kampung si Kilin tadi berasal, di tepi sungai Sebangau.
Saat mereka singgah ke kampung ini terlihatlah oleh Kilin seorang wanita cantik yang membawa barang-barang hasil bumi untuk ditukarkan pada dagangan yang dibawa kapal miliknya. Saat itu lah Kilin jatuh cinta pada wanita itu.
Segera Kilin menghampiri wanita itu dan bertanya, "Hai gadis cantik, siapakah namamu?"
Wanita itu menjawab dengan malu-malu, "Bawi Kuwu, tuan."
Kilin yang terpesona dengan kecantikan wanita itu bertanya, "Maukah kau menjadi istriku?"
Awalnya Bawi Kuwu enggan menerima lamaran Kilin yang masih muda itu, karena dia seorang janda.
Tapi Kilin yang sedang dimabuk cinta, tidak peduli akan hal itu. Dia tetap berkehendak untuk mengawini wanita cantik itu.
Setelah menikah ia membawa Bawi Kuwu ke kapalnya, pada saat itu kapal besar disebut dengan nama Banama oleh masyarakat Dayak dan pemiliknya disebut Bandar.
Sebelum berangkat tidur, Kilin merebahkan kepalanya di pangkuan Bawi Kuwu. Bawi Kuwu mengelus-elus kepala suaminya dengan lembut...  Saat itulah dia menemukan bekas luka di balik rambut suaminya.
Bawi Kuwu bertanya, "Suamiku, mengapa ada bekas luka di kepalamu?"
Kilin menjawab, "Oh, luka itu aku dapat karena dipukul oleh ibuku dengan solet... karena itu pula aku melarikan diri dari rumah, karena aku merasa ibuku sudah tidak mencintaiku lagi! Untunglah aku bertemu dengan Saudagar Cina yang baik hati, yang mendidikku sampai aku dewasa..."
Betapa terkejutnya Bawi Kuwu mendengar cerita suaminya itu... dengan wajah pucat dia berkata, "Akulah ibumu yang memukulmu itu!"
Kilin bangkit dengan marah, "Bohong! Mana mungkin ibuku masih muda dan cantik seperti kamu? Ibuku pasti sudah tua dan keriput!"
Bawi Kuwu menjawab, "Kecantikanku ini adalah anugerah dari Ranying Hatalla."
Kilin menertawakan can berkata, "Bila yang kau katakan itu benar, biarlah Ranying Hatalla yang membuktikannya!"
Esoknya Kilin menggelar upacara dengan mendirikan Sangkaraya. Banyak orang penduduk kampung itu yang diundang dalam upacara tersebut. Mereka beramai-ramai menikmati hidangan makanan yang disediakan di sana.
Di tengah upacara itu berlangsung, tiba- tiba datanglah angin ribut yang hebat dan awan tebal sekali.Petir sambar menyambar, bunyi guntur bergemuruh, langit gelap gulita... terjadilah hujan badai yang sangat hebat.
Kilin segera berlari ke kapalnya yang berlabuh di sungai Sebangau. Di tengah badai itu, kapal (banama) yang dimiliki Kilin berubah menjadi batu besar yang bentuknya mirip seperti kapal, yang kemudian dikenal dengan nama Batu Banama.
Sangkaraya yang didirikan di tengah kampung berubah menjadi Bukit Tangkiling yang paling tinggi puncaknya, di sana terdapat Batu Kapit Dosa dengan Bawi Kuwu yang terjebak hidup-hidup di dalam batu tersebut.
Selanjutnya da semacam upacara penghormatan atau ritual yang dilakukan dekat batu itu, fungsinya meminta pengampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sesaji turut dihadirkan, terhampar bermacam kue tradisional dan membakar kemenyan. Semua yang hadir dalam upacara itu membaca doa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
Menurut kepercayaan setempat, bila seseorang berbuat dosa, maka tidak akan bisa melewati sela kedua batu itu.
Sekarang ini Bukit Tangkiling ini berada di tepi Sungai Rungan dan di kaki bukit Tangkiling ada sebuah desa yang bernama Desa Tangkiling. Bukit Tangkiling kini telah menjadi objek wisata Kalimantan Tengah.
Konon peristiwa ini terjadi pada masa dinasti Tang, maka lokasi peristiwa ini dinamai Tangkilin, penggabungan dari kata Tang dan Kilin, yang penyebutannya berubah menjadi Tangkiling.
 
 



LEGENDA IKAN PATIN
 

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya yang bernama Awangku Usop lewat di depan rumah Dayang Kumunah. Pemuda itu melihatnya sedang menjemur pakaian. Saat itu pula, Awangku Usop langsung jatuh hati kepada Dayang Kumunah dan berniat memperistrinya. Beberapa hari kemudian, Awangku Usop datang ke rumah Dayang Kumunah untuk meminangnya. Dayang Kumunah bersedia menerima pinangan Awang Usop, asalkan ia juga bersedia memenuhi syaratnya. Syarat apa yang akan diajukan Dayang Kumunah kepada Awang Usop? Mampukah Awang Usop memenuhi syarat itu? Ingin tahu kisah selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Ikan Patin berikut ini.


Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi sebuah sungai yang luas dan jernih. Walaupun hidup seorang diri, Awang Gading selalu merasa bahagia. Ia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Pekerajaan sehari-harinya adalah menangkap ikan di sungai dan mencari kayu di hutan.

Suatu sore, sepulang dari hutan, Awang Gading pergi mengail di sungai. “Ah, semoga hari ini aku mendapat ikan besar,” gumam Awang Gading. Usai melemparkan kailnya ke dalam air, ia berdendang sambil menunggu kailnya. Berapa saat kemudian, umpannya pun di makan ikan. Dengan hati-hati disentakkannya kail itu. Apa yang terjadi? Ternyata ikannya terlepas. Lalu dipasangnya lagi umpan pada mata kailnya. Berkali-kali umpannya di makan ikan, namun saat kailnya ditarik, ikannya terlepas lagi.

“Air pasang telan ke insang
Air surut telan ke perut
Renggutlah…!
Biar putus jangan rabut,”

terdengar dendang Awang Gading sambil melempar pancingnya kembali.

Hari sudah mulai gelap. Namun, tak seekor ikan pun yang diperolehnya. “Rupanya, aku belum beruntung hari ini,” gumam Awang Gading. Usai bergumam, Awang Gading pun bergegas pulang. Namun, baru saja melangkah, tiba-tiba ia mendegar tangisan bayi. Dengan perasaan takut, Awang Gading mencari asal suara itu. Tak lama mencari, ia pun menemukan bayi perempuan yang mungil tergolek di atas batu. Tampaknya bayi itu baru saja dilahirkan oleh ibunya. Anak siapa gerangan? Kasihan, ditinggal seorang diri di tepi sungai,” Ucap Awang Gading dalam hati. Oleh karena merasa iba, dibawanya bayi itu pulang ke gubuknya.

Malam itu juga Awang Gading membawa bayi ke rumah tetua kampung. “Awang, berbahagialah, karena kamu dipercaya raja penghuni sungai untuk memelihara anaknya. Rawatlah ia dengan baik,” Tetua Kampung berpesan. “Terima kasih, Tetua! Saya akan merawat bayi ini dengan baik. Semoga kelak menjadi anak yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik,” jawab Awang Gading mengharap.

Keesokan harinya, Awang Gading mengadakan selamatan atas hadirnya bayi di tengah kehidupannya. Ia mengundang seluruh tetangganya. Awang Gading memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Usai acara tersebut, Awang Gading menimang-nimang sang bayi sambil mendendang, “Dayang sayang, anakku seorang…Cepatlah besar menjadi gadis dambaan.”

Kehadiran Dayang Kumunah dalam kehidupannya, membuat Awang Gading semakin giat bekerja. Ia sangat sayang dan perhatian terhadap Dayang. Awang Gading juga membekali Dayang Kumunah berbagai ilmu pengetuhan dan pelajaran budi pekerti. Setiap hari ia juga mengajak Dayang pergi mengail atau mencari kayu di hutan untuk mengenal kehidupan alam lebih dekat.

Waktu terus berjalan. Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi pekerti luhur. Ia juga sangat rajin membantu ayahnya. Namun sayang, Dayang Kumunah tidak pernah tertawa.

Suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya lewat di depan rumah Dayang. Pemuda itu bernama Awangku Usop. Saat melihat Dayang Kumunah sedang menjemur pakaian, Awangku Usop langsung jatuh hati kepadanya dan berniat untuk segera meminangnya.

Beberapa hari kemudian, Awangku Usop meminang Dayang Kumunah pada Awang Gading.

“Maaf, Tuan! Nama saya Awangku Usop. Saya dari desa sebelah,” kata Usop memperkenalkan diri.

“Ada apa gerangan, Ananda Awangku Usop?” tanya Awang Gading.

“Saya ke mari hendak meminang putri Tuan” pinang Awangku Usop.

Awang Gading tidak langsung memberikan jawaban. Keputusannya ada pada Dayang Kumunah. Lalu ia meminta pendapat Dayang Kumunah. “Anakku, Dayang! Bagaimana pendapatmu tentang pinangan Awangku Usop?” tanya Awang Gading pada Dayang yang sedang duduk di sampingya. Dayang Kumunah langsung menanggapi pinangan pemuda itu. “Kanda Usop, sebenarnya kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya bersedia menjadi istri kanda Usop, tetapi dengan syarat, jangan pernah meminta saya untuk tertawa,” pinta Dayang Kumunah. Awangku Usop menyanggupi syarat itu. “Baiklah! Saya berjanji untuk memenuhi syarat itu,” kata Awangku Usop.

Seminggu kemudian, mereka pun menikah. Pesta pernikahan mereka berlangsung meriah. Semua kerabat dan tetangga kedua mempelai diundang. Para undangan turut gembira menyaksikan kedua pasangan yang serasi tersebut. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop seorang pemuda yang sangat tampan. Mereka pun hidup berbahagia, saling mencintai dan saling menyayangi.

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah mereka menikah, Awang Gading meninggal dunia karena sakit. Dayang Kumunah sangat sedih kehilangan ayah yang telah mendidik dan membesarkannya, meskipun bukan ayah kandungnya sendiri. Hingga berbulan-bulan lamanya, hati Dayang Kumunah diselimuti perasaan sedih. Untungnya, kesedihan itu segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Kehadiran mereka telah menghapus ingatan Dayang Kumunah kepada “ayahnya”. Ia pun kembali bahagia hidup bersama suami dan kelima anaknya.

Namun, Awang Usop merasa kebahagiaan mereka kurang lengkap sebelum melihat Dayang Kumunah tertawa. Memang, sejak pertama kali bertemu hingga kini, Awang Usop belum pernah melihat istrinya tertawa.

Suatu sore, Dayang Kumunah berkumpul bersama keluarganya di teras rumah. Saat itu, si Bungsu mulai dapat berjalan dengan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. Awang Usop meminta istrinya ikut tertawa. Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya ia pun menuruti keinginan suaminya. Saat tertawa itulah, tiba-tiba tampak insang ikan di mulutnya. Menyadari hal itu, Dayang Kumunah segera berlari ke arah sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya.

Sesampainya di tepi sungai, perlahan-lahan tubuh Dayang Kumunah menjelma menjadi ikan dan segera melompat ke dalam air. Awang Usop pun baru menyadari kekhilafannya. “Maafkan aku, istriku! Aku sangat menyesal telah melanggar janjiku sendiri, karena memintamu untuk tertawa. Kembalilah ke rumah, istriku!” bujuk Awangku Usop.

Namun, semua sudah terlambat. Dayang Kumunah telah terjun ke sungai. Ia telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut wajah manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki manusia yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin.

Sebelum menyelam ke dalam air, Dayang Kumunah berpesan kepada suaminya, “Kanda, peliharalah anak-anak kita dengan baik.”

Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih melihat Dayang Kumunah yang sangat mereka cintai itu telah menjadi ikan. Mereka pun berjanji tidak akan makan ikan patin, karena dianggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya sebagian orang Melayu tidak makan ikan patin.

Senin, 31 Oktober 2016



CERITA RAKYAT HANTU KALIMANTAN TENGAH (HANTUEN)
cerita-hantu-hantuen
HANTUEN adalah hantu jadi-jadian berasal dari manusia yang masih hidup. Jadi, hantuen adalah manusia yang mempunyai kemampuan gaib untuk mengubah dirinya menjadi hantu jadi-jadian. Mahluk tersebut sangat ditakuti oleh penduduk daerah aliran sungai Kahayan seperti orang Dayak Ngaju dan Ot Danum.
Menurut kepercayaan setempat, hantuen dapat melepaskan kepala dari tubuhnya. Kemudian ia akan mencari orang yang tengah melahirkan untuk menghisap darahnya dan darah bayi yang baru dilahirkan, Semua itu sebenarnya dilakukan diluar keinginannya. ini mirip dengan Leak yang berasal dari Bali atau Swanggi dari Papua.
Asal mula timbulnya hantu jadi-jadian tersebut adalah sebagai berikut :
Dahulu kala di Baras Seayang hiduplah sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak gadis bernama Tapih. Tapih merupakan seorang anak gadis yang cantik sekali. Kulitnya berwarna putih kekuning-kuningan dan rambutnya yang panjang berwarna hitam pekat.
Pekerjaan orang tua Tapih adalah pembuat keranjang dari rotan dan ahli membuat topi tanggul daerah (topi yang tepinya lebar). Di Kalimantan Tengah topi tersebut khusus dipergunakan pada waktu orang mengadakan upacara lingkaran hidup, seperti pada waktu mengadakan upacara memandikan anak untuk pertama kali di sungai.
Pada suatu ketika, saat tapih sedang mandi di sungai, tiba-tiba topinya dihempaskan angin kencang dan jatuh di sungai. Topi itu kemudian terbawa arus yang cukup deras.
Karena topi itu dianggap bukan sembarang topi, Tapih yang di temani oleh orang tuanya menyusuri setiap desa yang terletak di sepanjang Sungai Rungan untuk mencarinya.
Ditanyainya setiap orang desa yang ditemui, tapi mereka tidak ada yang mengetahuinya. Akhirnya Tapih dan orang tuanya tiba di desa Sepang Simin, dan mereka menemukan kembali topi itu. Topi tersebut setelah di pungut o;eh seirang pemuda yang bernama Antang Taung. Sebagai tanda terima kasih, orang tua Tapih menghadiahi pemuda itu emas. Namun, Antang Taung menolaknya. Sebagai gantinya Antang Taung meminta Tapih untuk dijadikan istrinya. Permintaan itu disetujui oleh orang tua Tapih dengan senang hati.
Tak berapa lama kemudian Antang Taung dan Tapih dinikahkan di desa Baras Semayang. Menurut adat setempat, sepasang mempelai baru harus berdiam di rumah kedua orang tua masing-masing secara bergiliran. Mereka merasa sangat berat untuk memenuhi adat tersebut, karena diantara kedua desa mereka ada hutan yang lebat sekali.
Untuk memecahkan maslaah itu, diputuskan membuat jalan yang dapat menghubungkan kedua desa mereka tanpa melalui hutan terbsebut. untuk keperluan tenaga kerja mereka menggunakan para budak atau kuli masing-masing. Menurut penduduk setempat, jalan itu sampai kini masih ada dan bernama jalan Langkuas.
Pembuatan jalan dimulai dari Baras Semayang. Pekerjaan mereka mula-mula mengalami gangguan mahluk gaib. setiap kali para pekerja pulang, gubuk tempat mereka istirahat telah dimasuki orang dan bekal makanan mereka sudah telah habis dicuri.
Hingga suatu hari mereka menemukan akal. Mereka berbuat seolah-olah meninggalkan gubuk untuk bekerja, tetapi sebenarnya mereka sembunyi di balik semak tak jauh dari tempat itu. Dari tempat persembunyian, tiba-tiba mereka melihat seekor binatang Angkes ( sejenis landak ) menaiki tangga gubuk. Setiap masuk ke dalam, binatang itu menggoyang-goyangkan tubuhnya dan secara ajaib berubah menjadi seorang yang tampan.
Melihat hal itu para pekerja itu segera meringkusnya dan pemuda jadi-jadian itu berhasil ditangkap, ia minta ampun agar dilepas dan berjanji akan membant para pekerja membangn jalan dan permintaan itupun diluluskan.
Aneh bin ajaib, pemuda itu mampu menyelesaikan pembuatan jalan yang cukup panjang dalam waktu tiga hari saja. Mengetahui hal itu, Tapih dan Antang Taung sangat mengagumi pemuda jadi-jadian itu dan mereka mengambilnya sebagai anak angkat.
Beberapa waktu kemudian Tapih mengandung pada saat berada di desa Simin. Tapih mengidam makan ikan kali, maka Antang Taung segera menangkap ikan di sungai dengan hasil cukup banyak, Karena mendadak hujan lebat, Antang Taung langsung berlari dan tanpa sengaja meninggalkan seekor ikan tomang dalam perahunya.
Keesokan harinya ia kembali ke perahu untuk mengambil ikan yang tertinggal,ternyata ikan sudah lenyap tapi ada seorang bayi perempuan yang mungil terbaring di sana dan kemudian di bawa pulang oleh Antang Taung dan dijadikan anak angkat.
Anehnya bayi itu tumbuh dengan cepat, dalam hitungan bulan,ia sudah menjadi gadis dewasa yang sangat cantik dan molek. Gadis itu lalu jatuh cinta pada pemuda jelmaan binatang Angkes dan akhirnya keduanya dikawinkan dan menjadi pasangan yang bahagia dan melahirkan anak laki-laki, tetapi malang anak itu meninggal tak lama setelah lahir.
Beberapa hari kemudian anak Tapih dan Antang Taung pun meninggal, menurut adat setempat orang yang sudah meninggal harus di lakukan dua kali acara kematian,upacara pertama jenazahnya di kebukkebumikan, acara kedua jenazah yang tinggal tulang di bakar.
Acara kedua yang paling penting, karena membebaskan roh seseorang dari tubuh fisiknya untuk selama-lamanya. Sifat acara ini mewah sekali dan disebut dengan nama Tiwah.
Ketika mendengar bahwa saudara angkatnya akan di Tiwah, suami istri jelmaan itu juga ingin anaknya yang telah meninggal dibakar dalam upacara besar itu, tapi di tentang oleh Tapih dan Antang Taung, tapi mereka tak menghiraukan dan bersikukuh dengan niatnya, dan sesuatu yang heboh terjadi ketika jenazah anak dari manusia jadi-jadian di gali karena yang tinggal bukan tulang manusia melainkan tulang binatang dan ikan.
Kejadian itu membuat malu pasangan jadi-jadian sehingga mereka menyingkir dari desa Sepang Simin dan membangun desa jauh di tengah hutan belantara,di desa itu kemudian mereka beranak pinak menjadi satu keluarga besar dan di kenal dengan nama Hauten.
Demikian cerita rakyat yang menjadi legenda di aliran sungai Kahayan  Kalimantan Tengah
*di kutip dari cerita rakyat karya MB.Rahimsyah 2004

Penulis hanya mengupas sumber pustaka untuk dibagikan gratis kara ilmu gratis sangat dianjurkan untuk kemajuan bersama