LEGENDA IKAN PATIN

Pada suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya yang bernama Awangku
Usop lewat di depan rumah Dayang Kumunah. Pemuda itu melihatnya sedang
menjemur pakaian. Saat itu pula, Awangku Usop langsung jatuh hati kepada
Dayang Kumunah dan berniat memperistrinya. Beberapa hari kemudian,
Awangku Usop datang ke rumah Dayang Kumunah untuk meminangnya. Dayang
Kumunah bersedia menerima pinangan Awang Usop, asalkan ia juga bersedia
memenuhi syaratnya. Syarat apa yang akan diajukan Dayang Kumunah kepada
Awang Usop? Mampukah Awang Usop memenuhi syarat itu? Ingin tahu kisah
selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Ikan Patin berikut
ini.
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang
nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi
sebuah sungai yang luas dan jernih. Walaupun hidup seorang diri, Awang
Gading selalu merasa bahagia. Ia mensyukuri setiap nikmat yang
diberikan Tuhan kepadanya. Pekerajaan sehari-harinya adalah menangkap
ikan di sungai dan mencari kayu di hutan.
Suatu sore, sepulang dari hutan, Awang Gading pergi mengail di sungai.
“Ah, semoga hari ini aku mendapat ikan besar,” gumam Awang Gading. Usai
melemparkan kailnya ke dalam air, ia berdendang sambil menunggu
kailnya. Berapa saat kemudian, umpannya pun di makan ikan. Dengan
hati-hati disentakkannya kail itu. Apa yang terjadi? Ternyata ikannya
terlepas. Lalu dipasangnya lagi umpan pada mata kailnya. Berkali-kali
umpannya di makan ikan, namun saat kailnya ditarik, ikannya terlepas
lagi.
“Air pasang telan ke insang
Air surut telan ke perut
Renggutlah…!
Biar putus jangan rabut,”
terdengar dendang Awang Gading sambil melempar pancingnya kembali.
Hari sudah mulai gelap. Namun, tak seekor ikan pun yang diperolehnya.
“Rupanya, aku belum beruntung hari ini,” gumam Awang Gading. Usai
bergumam, Awang Gading pun bergegas pulang. Namun, baru saja melangkah,
tiba-tiba ia mendegar tangisan bayi. Dengan perasaan takut, Awang
Gading mencari asal suara itu. Tak lama mencari, ia pun menemukan bayi
perempuan yang mungil tergolek di atas batu. Tampaknya bayi itu baru
saja dilahirkan oleh ibunya. Anak siapa gerangan? Kasihan, ditinggal
seorang diri di tepi sungai,” Ucap Awang Gading dalam hati. Oleh karena
merasa iba, dibawanya bayi itu pulang ke gubuknya.
Malam itu juga Awang Gading membawa bayi ke rumah tetua kampung.
“Awang, berbahagialah, karena kamu dipercaya raja penghuni sungai untuk
memelihara anaknya. Rawatlah ia dengan baik,” Tetua Kampung berpesan.
“Terima kasih, Tetua! Saya akan merawat bayi ini dengan baik. Semoga
kelak menjadi anak yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik,” jawab
Awang Gading mengharap.
Keesokan harinya, Awang Gading mengadakan selamatan atas hadirnya bayi
di tengah kehidupannya. Ia mengundang seluruh tetangganya. Awang Gading
memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Usai acara tersebut, Awang
Gading menimang-nimang sang bayi sambil mendendang, “Dayang sayang,
anakku seorang…Cepatlah besar menjadi gadis dambaan.”
Kehadiran Dayang Kumunah dalam kehidupannya, membuat Awang Gading
semakin giat bekerja. Ia sangat sayang dan perhatian terhadap Dayang.
Awang Gading juga membekali Dayang Kumunah berbagai ilmu pengetuhan dan
pelajaran budi pekerti. Setiap hari ia juga mengajak Dayang pergi
mengail atau mencari kayu di hutan untuk mengenal kehidupan alam lebih
dekat.
Waktu terus berjalan. Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat
cantik dan berbudi pekerti luhur. Ia juga sangat rajin membantu
ayahnya. Namun sayang, Dayang Kumunah tidak pernah tertawa.
Suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya lewat di depan rumah Dayang.
Pemuda itu bernama Awangku Usop. Saat melihat Dayang Kumunah sedang
menjemur pakaian, Awangku Usop langsung jatuh hati kepadanya dan
berniat untuk segera meminangnya.
Beberapa hari kemudian, Awangku Usop meminang Dayang Kumunah pada Awang Gading.
“Maaf, Tuan! Nama saya Awangku Usop. Saya dari desa sebelah,” kata Usop memperkenalkan diri.
“Ada apa gerangan, Ananda Awangku Usop?” tanya Awang Gading.
“Saya ke mari hendak meminang putri Tuan” pinang Awangku Usop.
Awang Gading tidak langsung memberikan jawaban. Keputusannya ada pada
Dayang Kumunah. Lalu ia meminta pendapat Dayang Kumunah. “Anakku,
Dayang! Bagaimana pendapatmu tentang pinangan Awangku Usop?” tanya
Awang Gading pada Dayang yang sedang duduk di sampingya. Dayang Kumunah
langsung menanggapi pinangan pemuda itu. “Kanda Usop, sebenarnya kita
berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan
mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya bersedia
menjadi istri kanda Usop, tetapi dengan syarat, jangan pernah meminta
saya untuk tertawa,” pinta Dayang Kumunah. Awangku Usop menyanggupi
syarat itu. “Baiklah! Saya berjanji untuk memenuhi syarat itu,” kata
Awangku Usop.
Seminggu kemudian, mereka pun menikah. Pesta pernikahan mereka
berlangsung meriah. Semua kerabat dan tetangga kedua mempelai diundang.
Para undangan turut gembira menyaksikan kedua pasangan yang serasi
tersebut. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop
seorang pemuda yang sangat tampan. Mereka pun hidup berbahagia, saling
mencintai dan saling menyayangi.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Beberapa minggu
setelah mereka menikah, Awang Gading meninggal dunia karena sakit.
Dayang Kumunah sangat sedih kehilangan ayah yang telah mendidik dan
membesarkannya, meskipun bukan ayah kandungnya sendiri. Hingga
berbulan-bulan lamanya, hati Dayang Kumunah diselimuti perasaan sedih.
Untungnya, kesedihan itu segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya
yang berjumlah lima orang. Kehadiran mereka telah menghapus ingatan
Dayang Kumunah kepada “ayahnya”. Ia pun kembali bahagia hidup bersama
suami dan kelima anaknya.
Namun, Awang Usop merasa kebahagiaan mereka kurang lengkap sebelum
melihat Dayang Kumunah tertawa. Memang, sejak pertama kali bertemu
hingga kini, Awang Usop belum pernah melihat istrinya tertawa.
Suatu sore, Dayang Kumunah berkumpul bersama keluarganya di teras
rumah. Saat itu, si Bungsu mulai dapat berjalan dengan tertatih-tatih.
Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang
Kumunah. Awang Usop meminta istrinya ikut tertawa. Dayang Kumunah
menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya ia pun menuruti
keinginan suaminya. Saat tertawa itulah, tiba-tiba tampak insang ikan
di mulutnya. Menyadari hal itu, Dayang Kumunah segera berlari ke arah
sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya.
Sesampainya di tepi sungai, perlahan-lahan tubuh Dayang Kumunah
menjelma menjadi ikan dan segera melompat ke dalam air. Awang Usop pun
baru menyadari kekhilafannya. “Maafkan aku, istriku! Aku sangat
menyesal telah melanggar janjiku sendiri, karena memintamu untuk
tertawa. Kembalilah ke rumah, istriku!” bujuk Awangku Usop.
Namun, semua sudah terlambat. Dayang Kumunah telah terjun ke sungai. Ia
telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa
sisik. Mukanya menyerupai raut wajah manusia. Ekornya seolah-olah
sepasang kaki manusia yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan
patin.
Sebelum menyelam ke dalam air, Dayang Kumunah berpesan kepada suaminya, “Kanda, peliharalah anak-anak kita dengan baik.”
Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih melihat Dayang Kumunah
yang sangat mereka cintai itu telah menjadi ikan. Mereka pun berjanji
tidak akan makan ikan patin, karena dianggap sebagai keluarga mereka.
Itulah sebabnya sebagian orang Melayu tidak makan ikan patin.